Regulasi: FCA (UK) & CySEC (Siprus) | Deposit Mulai USD 10 Withdraw Instan 24/7

Ketegangan Timur Tengah Dorong Penguatan Dolar AS dan Tekan Mata Uang Utama Lainnya

Pasar forex global pada pekan ini melanjutkan tren defensif dengan Indeks Dolar AS (DXY) bertahan kokoh di atas level 100. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berkepanjangan terus mendorong permintaan safe-haven terhadap dolar AS. Konflik antara Israel dan Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian membuat ketidakpastian pasar tetap tinggi, sementara keamanan navigasi di Selat Hormuz masih menjadi sumber kekhawatiran utama bagi para pelaku pasar.

Pasangan mata uang EUR/USD sempat menyentuh level 1,1500 pada awal pekan sebelum mengalami rebound tipis ke kisaran 1,1530. Euro menghadapi tekanan dari meningkatnya harga energi yang membebani ekonomi Zona Euro yang pertumbuhannya hanya mencapai 0,9 persen. Sementara itu, pasangan GBP/USD mencatat performa lebih lemah dengan nilai tukar mendekati 1,3330. Data PMI sektor jasa Inggris yang berada di bawah ekspektasi menambah tekanan pada poundsterling.

Pasangan mata uang komoditas juga tidak luput dari tekanan. AUD/USD bertahan di sekitar 0,7160 dengan katalis positif yang terbatas. Sementara itu, USD/CAD diperdagangkan dalam kisaran 1,3810 hingga 1,3920. Kenaikan harga minyak mentah memberikan sedikit dukungan bagi dolar Kanada, namun kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global mengimbangi sentimen positif tersebut.

Yen Jepang terus menjadi pusat perhatian pasar dengan USD/JPY berada di dekat level 159,50. Level psikologis 160 dipandang sebagai titik kritis yang dapat memicu intervensi dari Bank of Japan (BOJ). Para pejabat BOJ telah berulang kali memberikan peringatan verbal, namun langkah intervensi nyata belum terlihat. Jika pasangan ini menembus level 160, probabilitas intervensi diperkirakan akan meningkat secara signifikan.

Para pelaku pasar kini menantikan rilis data CPI AS pada 10 Juni serta keputusan kebijakan FOMC pada 16-17 Juni sebagai penentu arah dolar AS selanjutnya. Data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama dan mendorong penguatan dolar lebih lanjut.