Regulasi: FCA (UK) & CySEC (Siprus) | Deposit Mulai USD 10 Withdraw Instan 24/7

PHK di AS Turun Drastis 53% di Juni, AI Tetap Jadi Biang Kerok: Dolar Menguat Tajam

# PHK di AS Turun Drastis 53% di Juni, AI Tetap Jadi Biang Kerok: Dolar Menguat Tajam

Pasar tenaga kerja Amerika Serikat menunjukkan sinyal positif di tengah ketidakpastian ekonomi global, dengan data terbaru mengungkapkan jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) pada bulan Juni 2026 turun signifikan sebesar 53% dibandingkan bulan sebelumnya, menjadi hanya 45.389 orang. Namun di balik angka yang menggembirakan ini, kecerdasan buatan (AI) masih menjadi penyebab utama PHK, menandakan perubahan struktural yang sedang berlangsung di pasar tenaga kerja AS.

Laporan dari firma konsultan ketenagakerjaan yang dirilis hari ini menunjukkan bahwa meskipun angka PHK menurun drastis, sektor teknologi tetap menjadi yang paling terdampak dengan AI mengambil alih berbagai peran yang sebelumnya dilakukan oleh manusia. Ini adalah pola yang telah berlangsung selama dua tahun terakhir dan diperkirakan akan terus berlanjut.

“Penurunan PHK ini tentu kabar baik, namun yang perlu diperhatikan adalah penyebab struktural di baliknya,” kata Dr. Siti Rahmawati, ekonom dari Universitas Indonesia. “AI terus mengubah lanskap ketenagakerjaan global, dan ini akan berdampak pada produktivitas, konsumsi, dan pada akhirnya kebijakan moneter.”

Data PHK yang lebih baik dari perkiraan ini menjadi faktor tambahan yang mendorong penguatan dolar AS terhadap mata uang utama lainnya. Indeks Dolar AS (DXY) mencatat kenaikan solid dalam perdagangan hari ini, bersama dengan euro yang sempat menguat setelah pernyataan hawkish Presiden ECB Christine Lagarde sebelum akhirnya melemah kembali.

Lagarde dalam pidatonya di forum bank sentral global hari ini mengindikasikan bahwa ECB kemungkinan akan menaikkan suku bunga lebih lanjut meskipun inflasi Zona Euro melambat menjadi 2,2% di bulan Juni, di bawah ekspektasi pasar sebesar 2,4%. Sikap hawkish ini kontras dengan ekspektasi pasar bahwa ECB mungkin akan segera mengakhiri siklus kenaikan suku bunganya.

Sementara itu, pasar menantikan pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh yang dijadwalkan akan berbicara nanti malam. Para pelaku pasar berharap mendapatkan petunjuk mengenai arah suku bunga AS, terutama setelah data PHK yang lebih baik dan inflasi yang masih di atas target 2% The Fed.

Di sisi lain, OPEC+ diperkirakan akan meningkatkan produksi minyak sebesar 188.000 barel per hari pada bulan Agustus. Langkah ini diambil di tengah harga minyak yang masih tinggi dan kekhawatiran akan pasokan global. Keputusan ini penting bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak, karena dapat membantu menstabilkan harga energi domestik.

“Bagi Indonesia, kombinasi dolar AS yang kuat dan potensi penurunan harga minyak adalah pedang bermata dua,” ujar analis pasar uang dari Jakarta. “Di satu sisi, dolar kuat membuat beban impor lebih berat, tapi di sisi lain minyak lebih murah bisa membantu mengendalikan inflasi.”

Forum bank sentral global tahun ini menjadi saksi betapa berbedanya pendekatan kebijakan moneter antar negara maju. ECB dan Fed masih dalam mode pengetatan, Bank of Japan (BOJ) tetap ultra-longgar, sementara bank sentral China dan beberapa negara berkembang justru melonggarkan kebijakan untuk mendorong pertumbuhan.

Untuk pasar forex Indonesia, penguatan dolar AS berarti tekanan tambahan pada rupiah. Pasangan USD/IDR diperkirakan akan tetap dalam tren naik dalam jangka pendek, meskipun intervensi Bank Indonesia dapat membatasi pelemahan lebih lanjut. Pelaku pasar disarankan untuk mencermati pidato Warsh dan data ekonomi AS lainnya yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan.