Regulasi: FCA (UK) & CySEC (Siprus) | Deposit Mulai USD 10 Withdraw Instan 24/7

Pasar Tenaga Kerja AS Kokoh, Imbal Hasil Obligasi Turun – Dolar Masih Berjaya

Pasar tenaga kerja AS terus menunjukkan kekuatan yang luar biasa dengan jumlah klaim tunjangan pengangguran pertama dalam pekan terbaru hanya 215.000, lebih rendah dari ramalan para ekonom. Angka ini mencerminkan pasar tenaga kerja yang ketat dengan permintaan perekrutan yang masih tinggi.

Data ketenagakerjaan yang kuat merupakan faktor pendukung utama bagi sikap hawkish The Fed. Dengan pasar tenaga kerja yang kokoh, The Fed memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga tinggi tanpa khawatir tentang resesi ekonomi yang dalam. Risalah FOMC Juli menunjukkan para pejabat The Fed menganggap data pasar tenaga kerja sebagai faktor kunci dalam keputusan kebijakan.

Indeks Harga Konsumen (CPI) AS bulan Juni yang sedikit menurun merupakan sinyal positif, namun inflasi di sektor jasa yang dipantau ketat oleh The Fed masih meningkat. Ini mencerminkan tekanan upah dan biaya jasa yang masih berlanjut, mendorong The Fed untuk mempertahankan kebijakan ketat.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke level 4,545% ketika investor beralih ke aset safe haven dan menyesuaikan ekspektasi suku bunga. Penurunan imbal hasil obligasi ini mencerminkan pasar memberikan bobot lebih tinggi terhadap risiko resesi ekonomi, berlawanan dengan data ketenagakerjaan yang kuat.

Dolar AS yang kuat dari sikap hawkish The Fed merupakan faktor utama yang memberikan tekanan pada rupiah Indonesia. Arus keluar modal dari pasar emerging memperburuk tekanan ini, terutama ketika ketegangan Timur Tengah meningkatkan sentimen menghindari risiko.

Ketidakpastian dalam kebijakan moneter Bank of Japan (BOJ) semakin memperumit gambaran pasar forex Asia. Yen yang lemah menyeret mata uang Asia lainnya ikut melemah, menyulitkan bank sentral regional untuk mengendalikan inflasi impor.

Para trader forex kini memberikan perhatian khusus pada data ekonomi penting AS yang akan dirilis pekan depan, termasuk Indeks Harga Produsen (PPI) dan Penjualan Ritel. Data-data ini akan memberikan informasi tambahan tentang tren ekonomi dan inflasi, membantu The Fed mengambil keputusan dalam pertemuan berikutnya.

Untuk semester kedua 2026, rupiah Indonesia diperkirakan masih akan tertekan selama The Fed mempertahankan sikap hawkish dan ketegangan Timur Tengah belum mereda. Bank Indonesia kemungkinan akan mempertahankan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi.