Regulasi: FCA (UK) & CySEC (Siprus) | Deposit Mulai USD 10 Withdraw Instan 24/7

Fed Gelar Pertemuan FOMC Pekan Ini: Dolar Menguat, Pound dan Euro Tertekan

Pasar valuta asing global memasuki minggu penting pada 28 Juli 2026, saat investor memusatkan perhatian pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Federal Reserve AS yang dijadwalkan pada 28-29 Juli. Dolar AS menguat dalam perdagangan hari Senin, memberikan tekanan pada sebagian besar mata uang utama lainnya.

Pound Inggris (GBP/USD) merosot ke level 1,3280 dalam perdagangan Eropa pada hari Senin, mencapai level terendah dalam empat minggu. Kejatuhan ini cukup mengejutkan karena Inggris baru saja melaporkan data ekonomi terbaik musim panas ini, termasuk pertumbuhan PDB kuartal kedua yang solid dan pasar tenaga kerja yang tetap kuat. Analis menjelaskan fenomena ini sebagai kasus klasik “Beli Berdasarkan Rumornya, Jual Berdasarkan Faktanya” (Buy the Rumor, Sell the Fact) — pasar telah memperhitungkan berita positif sebelumnya, dan ketika data aktual dirilis, para pedagang mengambil keuntungan.

Euro (EUR/USD) diperdagangkan di sekitar 1,1350, mendekati level terendah bulanan. Meskipun pejabat Bank Sentral Eropa (ECB) terus memberi sinyal mempertahankan sikap kebijakan moneter yang ketat, Euro tidak menerima dukungan signifikan. Analis di Commerzbank menyatakan bahwa ekonomi Jerman menghadapi “dilema ganda” — potensi pemulihan dari manufaktur dan ekspor di satu sisi, dan biaya energi yang tinggi terus menjadi hambatan struktural terhadap daya saing industri di sisi lain.

Di Asia, Bank Rakyat Tiongkok (PBOC) menetapkan kurs referensi USD/CNY pada 6,7928, naik tipis dari 6,7911 sebelumnya. Yuan Tiongkok bertahan dalam rentang perdagangan sempit 6,78-6,80 dalam beberapa pekan terakhir. Dolar Singapura (SGD) adalah salah satu dari sedikit mata uang Asia yang mempertahankan kekuatan relatif, didukung oleh kebijakan moneter ketat Otoritas Moneter Singapura (MAS). Analis dari MUFG dan BBH memperkirakan MAS dapat lebih memperketat kebijakan pada pertemuan Oktober jika data inflasi tetap tinggi.

Yen Jepang terus melemah meskipun Bank of Japan (BOJ) telah menaikkan suku bunga menjadi sekitar 1,0%. Analis di BNP Paribas menggambarkan ini sebagai “paradoks pengetatan BOJ”: meskipun BOJ sedang menormalkan kebijakan moneter, selisih suku bunga antara Jepang dan AS masih terlalu lebar — lebih dari 300 basis poin — membuat perdagangan bawaan (Carry Trade) tetap menarik. USD/JPY diperdagangkan sekitar 162,50.

Untuk pekan ini, keputusan Fed adalah faktor paling kritis. Jika Fed memberi sinyal dovish — seperti mengisyaratkan kemungkinan pemotongan suku bunga pada bulan September — USD dapat melemah dan mata uang lainnya akan pulih. Sebaliknya, jika Fed mempertahankan sikap hawkish, USD akan terus menguat. Investor juga harus memantau laporan Ketenagakerjaan Non-Pertanian (Non-Farm Payrolls) AS yang akan dirilis pada hari Jumat ini, dengan ekspektasi sekitar 180.000 pekerjaan baru ditambahkan.