Regulasi: FCA (UK) & CySEC (Siprus) | Deposit Mulai USD 10 Withdraw Instan 24/7

Kestabilan Yuan di Tengah Pelemahan Dolar dan Penyesuaian Kurs Tengah 17 Bps

Pasar valuta asing Asia dibuka dengan sentimen hati-hati namun tetap menunjukkan ketahanan mata uang yuan Tiongkok. Pada Jumat pagi, 31 Agustus 2026, China Foreign Exchange Trading System (CFETS) menetapkan kurs tengah yuan lebih rendah 17 basis poin menjadi 6,7828 per dolar AS, melanjutkan ritme penyesuaian moderat yang selama ini dilakukan otoritas moneter Negeri Tirai Bambu dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

Penurunan 17 basis poin ini terjadi setelah pada perdagangan sebelumnya kurs tengah ditetapkan pada 6,7811 dengan kenaikan 29 basis poin. Pola fluktuasi yang cenderung kecil dan searah dalam dua sesi terakhir menunjukkan bahwa bank sentral masih mengadopsi pendekatan yang hati-hati dan terukur terhadap pergerakan mata uang domestik, bukan reaksi panik terhadap gejolak pasar global.

Sementara itu, di pasar spot, yuan yang diperdagangkan di dalam negeri (onshore) bergerak di kisaran sekitar 6,73 terhadap dolar AS, sementara yuan lepas pantai (offshore) terlihat betah berfluktuasi di sekitar level 6,72. Jarak yang relatif sempit antara kurs onshore dan offshore menandakan tekanan spekulatif yang rendah dan ekpektasi pasar yang cukup seimbang terhadap prospek jangka pendek yuan.

Kurs tengah mata uang utama lainnya juga diumumkan bersamaan, dengan euro dipatok pada 7,8344 yuan, sementara 100 yen Jepang, pound sterling, dan dolar Hong Kong ditetapkan mengikuti perkembangan pasar terkini. Penetapan ini mempertegas komitmen Beijing untuk menjaga keranjang mata uang yang lebih beragam dalam pengelolaan nilai tukar yuan.

Di balik layar, ketahanan yuan tidak lepas dari pelemahan dolar AS. Indeks dolar (DXY) pada sesi Asia pagi ini tercatat berada di sekitar 99,58, turun sekitar 0,12 persen dari posisi pembukaan 99,70. Dolar yang berada di bawah garis rata-rata pergerakan 9 hari dan 50 hari, dengan indikator RSI 14 hari di sekitar 38,94 yang mendekati wilayah jenuh jual, mengisyaratkan bahwa momentum penguatan greenback masih belum terbentuk kembali.

Pelemahan dolar memberikan ruang bernapas bagi mata uang Asia lain termasuk yuan. Ketika dolar melemah, beban apresiasi terhadap mata uang emerging market ikut berkurang, sehingga otoritas Tiongkok memiliki kelonggaran lebih besar dalam mengelola likuiditas dan kebijakan moneternya tanpa harus cemas terhadap arus keluar modal yang deras.

Meski begitu, pelaku pasar tetap mencermati arah kebijakan Federal Reserve dan dinamika imbal hasil obligasi AS. Koreksi kurs tengah yang tipis menunjukkan bahwa Beijing masih menilai fundamental ekonomi domestik cukup kokoh, namun tetap waspada terhadap risiko eksternal yang bisa mengguncang pasar keuangan secara tiba-tiba.

Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada data ekonomi Tiongkok dan arah kebijakan moneter global. Sepanjang tidak ada kejutan besar dari sisi kebijakan The Fed maupun eskalasi gejolak geopolitik, yuan diperkirakan akan tetap bertahan di kisaran yang sempit dan stabil, menegaskan perannya sebagai salah satu mata uang utama yang paling tahan banting di kawasan Asia pada periode penuh ketidakpastian ini.