Regulasi: FCA (UK) & CySEC (Siprus) | Deposit Mulai USD 10 Withdraw Instan 24/7

Dolar Melemah, Imbal Hasil UST 30 Tahun Tembus Tertinggi sejak 2007, Mata Uang Non-Dolar Menguat

Pasar keuangan global kembali menyaksikan fenomena yang jarang terjadi: pelemahan dolar AS berjalan beriringan dengan melonjaknya imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor panjang. Pada perdagangan Senin pagi, 31 Agustus 2026, indeks dolar (DXY) di sesi Asia dibuka di level 99,70 dan merosot ke sekitar 99,58, mencerminkan penurunan sekitar 0,12 persen yang menegaskan posisi greenback yang masih berada dalam tren lemah.

Kondisi ini makin terasa dengan posisi dolar yang kini diperdagangkan di bawah garis rata-rata pergerakan 9 hari dan 50 hari. Indikator RSI 14 hari yang berada di sekitar 38,94 dan mendekati wilayah jenuh jual menjadi sinyal teknis bahwa tekanan jual terhadap dolar belum sepenuhnya reda, sehingga ruang untuk rebound jangka pendek masih terbatas.

Hal yang menonjol dari sesi kali ini adalah lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun yang sempat menembus level tertinggi sejak tahun 2007. Kenaikan imbal hasil jangka panjang ini sebagian dipicu oleh langkah Departemen Keuangan AS yang memperluas program pembelian kembali (buyback) obligasi berdurasi lebih panjang dalam upaya menekan imbal hasil di ujung panjang kurva, meskipun sejumlah pelaku pasar menafsirkan kebijakan tersebut sebagai respons yang cenderung pasif terhadap tekanan pasar.

Ironi yang menarik adalah meskipun imbal hasil jangka panjang naik tajam, dolar justru melemah. Hal ini menandakan bahwa pasar mulai memberikan harga atas risiko kredibilitas fiskal Amerika Serikat yang kian memburuk. Investor semakin mencermati kondisi anggaran pemerintah yang bergantung pada penerbitan surat utang baru, sehingga persepsi risiko terhadap greenback kian membesar meski suku bunga jangka panjang tinggi.

Dalam skenario lemahnya dolar tersebut, mata uang non-dolar justru memperoleh momentum penguatan. Euro terhadap dolar AS terpantau bergerak lebih kuat, menandakan mata uang tunggal Eropa kembali diminati oleh investor yang mencari alternatif dari greenback. Perkembangan ini menjadi angin segar bagi blok Eropa yang tengah berupaya menstabilkan prospek ekonominya di tengah tekanan inflasi dan perlambatan global.

Namun, tidak semua mata uang non-dolar ikut menguat. Yen Jepang misalnya cenderung tetap lemah karena selisih suku bunga antara Jepang dan Amerika Serikat yang lebar terus menekan mata uang Matahari Terbit. Kondisi ini menunjukkan bahwa pergerakan mata uang tidak hanya ditentukan oleh arah dolar, tetapi juga oleh fundamental domestik masing-masing negara dan kebijakan bank sentralnya.

Sentimen risiko yang memburuk akibat ketegangan geopolitik juga menambah kompleksitas lanskap pasar. Meski begitu, pelemahan dolar tetap memberikan dukungan harga bagi aset-aset berdenominasi non-dolar, termasuk komoditas dan mata uang negara berkembang. Para analis meyakini bahwa selama pasar masih mempertanyakan keberlanjutan fiskal AS, kecenderungan dolar melemah masih akan bertahan.

Ke depan, fokus pasar akan bergeser ke kebijakan bank sentral utama dan perkembangan geopolitik. Kombinasi imbal hasil jangka panjang yang tinggi dipadu dolar yang lemah dinilai sebagai sinyal yang tidak biasa dan berpotensi mendorong realokasi aset secara lebih luas. Investor disarankan untuk mencermati data ekonomi mendatang serta isyarat kebijakan The Fed sebelum mengambil posisi besar, mengingat volatilitas lintas pasar diperkirakan masih akan tinggi dalam waktu dekat.