Euro Turun ke Terendah Sebulan, SocGen Pangkas Perkiraan 2026 Jadi 1.16
Pasangan mata uang EUR/USD saat ini diperdagangkan di sekitar level terendah dalam sebulan, bergerak dalam kisaran satu koma satu tiga enam nol hingga satu koma satu empat nol nol dan kini telah jatuh di bawah level satu koma satu empat nol nol. Pelemahan euro terjadi di tengah penguatan dolar Amerika yang mendekati level tertinggi 2026, memaksa para analis untuk terus merevisi prospek mereka. Dalam langkah terbaru, bank Société Générale telah menurunkan perkiraan EUR/USD untuk tahun 2026 dari satu koma dua nol menjadi satu koma satu enam, sementara beberapa analis bahkan memberikan angka yang lebih rendah yaitu satu koma satu lima.
Penyesuaian perkiraan ini mencerminkan divergensi kebijakan yang semakin jelas antara kedua sisi Atlantik. Di Amerika Serikat, ekonomi terus tumbuh kuat, imbal hasil obligasi Treasury berada di zona tertinggi beberapa tahun, dan pasar memperhitungkan sekitar enam puluh delapan persen kemungkinan bahwa Fed akan menaikkan suku bunga pada Oktober. Di zona euro, Bank Sentral Eropa diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah, dan menurut perkiraan ING, inflasi inti zona euro pada September hanya naik nol koma satu poin persen menjadi dua koma lima persen. Kontras antara Fed yang sedang mempertimbangkan pengetatan tambahan dan ECB yang hanya mengamati dari luar adalah pendorong utama yang menekan EUR/USD ke posisi rendah.
Perkembangan inflasi adalah fokus utama cerita ini. Ketika inflasi inti Eropa hanya naik sedikit menjadi dua koma lima persen, ECB memiliki sedikit alasan untuk segera mengetatkan kebijakan, terutama ketika prospek pertumbuhan blok itu masih rapuh. Sebaliknya, di Amerika Serikat, tekanan harga masih ada dan pejabat Fed seperti Gubernur Hammack terus menekankan bahwa risiko terbesar adalah terbentuknya pola pikir inflasi yang mengakar. Perbedaan ini menciptakan selisih suku bunga riil yang semakin berpihak pada dolar, dan di pasar valuta asing, selisih suku bunga riil adalah salah satu faktor pendorong nilai tukar yang paling kuat.
Selain faktor suku bunga, faktor teknis dan aliran modal juga merugikan euro. EUR/USD yang berulang kali ditolak pada level resistensi dan gagal mempertahankan level satu koma satu empat nol nol menyebabkan pedagang momentum menambah posisi jual. Ketika pasangan mata uang utama menembus zona support psikologis, aliran spekulatif biasanya mempercepat penurunan. Pada saat yang sama, ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan harga minyak yang melonjak merugikan Eropa secara tidak proporsional, karena kawasan itu sangat bergantung pada impor energi, sehingga menjadikan euro kurang menarik dibanding dolar.
Satu faktor yang kurang diperhatikan namun penting adalah biaya energi. Ketika harga minyak mentah Brent melewati seratus tujuh dolar per barel setelah Iran menolak melunakkan syarat pembukaan kembali Selat Hormuz dan Amerika menolak proposal gencatan senjata, Eropa yang merupakan importir energi bersih menerima kerugian lebih besar dibanding Amerika. Ini memperburuk neraca perdagangan dan prospek pertumbuhan blok itu, sekaligus mendorong tekanan inflasi biaya ke atas. Dalam kondisi seperti itu, ECB terjebak dalam dilema karena menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi akan mengancam pertumbuhan yang sudah lemah, sementara mempertahankan suku bunga akan menyebabkan euro terus menyusut nilainya.
Dampak euro yang lemah bersifat multidimensi. Dari sisi positif, mata uang yang lebih lemah membantu meningkatkan daya saing ekspor perusahaan Eropa, terutama di lingkungan pertumbuhan global yang melambat. Dari sisi negatif, biaya impor energi dan bahan baku meningkat, mendorong inflasi domestik lebih tinggi dan menciptakan dilema bagi ECB. Sementara itu, euro yang lemah juga menyebabkan investor internasional menuntut premi risiko lebih tinggi untuk memegang aset Eropa, meningkatkan biaya modal bagi kawasan itu dan berpotensi melambatkan pemulihan investasi.
Dari perspektif investor Indonesia, pelemahan euro memberikan sinyal penting mengenai arah tren dolar global. Ketika euro, yang merupakan mata uang terbesar kedua dalam cadangan dunia, jatuh ke level terendah sebulan, hal itu biasanya menandakan penguatan dolar yang meluas. Ini dapat memberikan tekanan pada mata uang regional termasuk rupiah. Investor Indonesia yang memegang aset Eropa perlu mempertimbangkan risiko nilai tukar dalam portofolio mereka, karena pelemahan euro dapat mengurangi pengembalian investasi ketika dikonversi kembali ke mata uang lokal atau dolar. Selain itu, pelemahan euro juga dapat mempengaruhi daya saing ekspor Indonesia ke Eropa, karena produk Indonesia menjadi relatif lebih mahal di pasar Eropa.
Bagi investor, penurunan perkiraan SocGen menjadi satu koma satu enam dan angka satu koma satu lima dari beberapa analis berarti ekspektasi bahwa euro akan terus melemah dalam jangka menengah. Ini menunjukkan bahwa strategi perdagangan yang condong ke arah menjual EUR/USD pada pemulihan mungkin masih wajar, tetapi perlu menetapkan stop loss yang ketat karena setiap sinyal dovish dari Fed dapat membalikkan tren penurunan dengan cepat. Investor juga perlu memantau zona satu koma satu tiga enam nol sebagai support terdekat, dan bersiap untuk kemungkinan pasangan mata uang itu menguji level lebih rendah jika data inflasi Amerika terus panas. Diversifikasi dan lindung nilai risiko mata uang akan menjadi kebutuhan penting dalam lingkungan kebijakan yang berbeda seperti saat ini, ketika jurang antara kedua bank sentral semakin melebar dan prospek pertumbuhan kedua kawasan semakin berbeda. Dengan memahami dinamika ini secara mendalam, investor dapat mengambil keputusan yang lebih tepat dan melindungi portofolio mereka dari gejolak nilai tukar yang tidak terduga.