Regulasi: FCA (UK) & CySEC (Siprus) | Deposit Mulai USD 10 Withdraw Instan 24/7

Dolar Australia jatuh setelah RBA naikkan suku bunga ke 4,60%

Pada 29 September, Reserve Bank of Australia (RBA) menaikkan suku bunga kebijakan sebesar 25 basis poin menjadi 4,60%, level tertinggi dalam 15 tahun. Meskipun keputusan ini telah diantisipasi luas oleh pasar, setelah pengumuman AUD/USD justru turun tajam, menembus level 0,7000 dan menembus retracement Fibonacci 61,8% di sekitar 0,7010.

Penyebab utamanya terletak pada penafsiran pasar terhadap sifat kenaikan suku bunga ini. Tim riset makro TD Securities menyatakan bahwa kenaikan 25 basis poin pada September adalah langkah manajemen risiko, bukan awal dari siklus pengetatan baru. Standard Chartered juga berpendapat bahwa kenaikan ini disetujui secara bulat tetapi nada Gubernur Bullock cukup dovish, memberi sinyal bahwa suku bunga akan tetap ditahan dalam periode pemantauan yang panjang.

Kedua, pernyataan setelah rapat tidak memberikan komitmen jelas mengenai kenaikan lanjutan. Pasar valuta asing selalu bertransaksi berdasarkan “selisih ekspektasi”, bukan fakta yang sudah terjadi. Ketika kenaikan suku bunga sudah sepenuhnya tercermin dalam harga dan pernyataan tidak memberikan sinyal yang lebih hawkish, pengambilan keuntungan menjadi pilihan yang wajar.

Ketiga, lingkungan eksternal terus menekan dolar Australia. Indeks dolar AS mendekati puncak Juni, imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun berada di atas 5%, membuat selisih suku bunga AS-Australia melebar, dan modal terus mengalir ke aset berdenominasi dolar AS.

Dari sisi teknikal, setelah AUD/USD menembus 0,7000, zona support yang perlu dipantau adalah 0,6950 dan 0,6900, sedangkan 0,7010 dan 0,7050 menjadi resistance. Bagi investor, data ketenagakerjaan Australia, sinyal kebijakan dari China, dan perubahan imbal hasil obligasi AS akan menjadi variabel kunci yang mempengaruhi AUD dalam beberapa pekan mendatang.