Emas Bertahan di Bawah 4.300 Dolar, Perak Melemah saat Fed Hawkish Menekan Logam Mulia
Harga emas dunia masih belum mampu melepaskan diri dari tekanan pada akhir pekan ini. Setelah mencatat dua hari penurunan berturut-turut, emas spot bertahan di atas level terendahnya tetapi tetap kesulitan menembus 4.300 dolar AS per ons. Sebelumnya logam mulia ini diperdagangkan di sekitar 4.290 dolar AS, jauh di bawah puncak Agustus yang mendekati 4.700 dolar AS. Dengan pergerakan tersebut, emas masih menuju penurunan mingguan, tertekan oleh ekspektasi kebijakan Federal Reserve yang semakin keras.
Perak tidak jauh berbeda. Harga perak atau XAG/USD berada di sekitar 64,30 dolar AS per ons dan nyaris datar pada hari Jumat. Meski begitu, indikator teknikal seperti RSI dan ADX menunjukkan momentum yang lemah, dan perak juga berada di jalur penurunan mingguan. Bagi investor yang terbiasa memantau rasio emas terhadap perak, kondisi ini menegaskan bahwa seluruh kompleks logam mulia sedang menghadapi angin sakal yang sama.
Apa yang menekan logam mulia saat ini? Jawabannya terletak pada kombinasi imbal hasil riil dan dolar. Emas tidak memberikan bunga atau dividen. Ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan di kisaran 5,18 hingga 5,20 persen, dan bahkan menyentuh puncak 19 tahun di 5,228 persen, biaya alternatif atau opportunity cost untuk memegang emas menjadi sangat tinggi. Investor bisa mendapatkan imbal hasil di atas 5 persen dari aset yang dijamin pemerintah, sehingga daya tarik emas yang tidak memberi imbal hasil menurun secara relatif.
Situasi itu diperparah oleh dolar yang kuat. Ketika indeks dolar menguat, harga emas yang diukur dalam dolar AS menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar Amerika Serikat, sehingga permintaan fisik dari pasar seperti India, Tiongkok, dan Asia Tenggara cenderung melemah. Ditambah lagi, ekspektasi bahwa The Fed masih akan menaikkan suku bunga membuat investor enggan memegang aset yang tidak menghasilkan bunga.
Pernyataan pejabat The Fed memperkuat narasi tersebut. Presiden Fed Cleveland, Beth Hammack, menilai kebijakan moneter saat ini belum restriktif dan menyoroti risiko terbentuknya pola pikir inflasi. Setelah kenaikan 25 basis poin pada September ke kisaran 3,75 hingga 4,00 persen, pasar kini memberi peluang material untuk kenaikan tambahan 25 basis poin pada rapat Oktober. Setiap sinyal hawkish baru biasanya langsung berdampak pada harga emas.
Meski begitu, tidak semua faktor bergerak melawan emas. Permintaan struktural dari bank sentral dunia dan aliran dana ke exchange-traded fund atau ETF emas tetap menjadi penopang jangka panjang. Sejumlah bank sentral di negara berkembang terus menambah cadangan emas sebagai diversifikasi dari cadangan dolar. Aliran ini bersifat struktural dan tidak mudah berubah karena keputusan kebijakan jangka panjang, bukan spekulasi jangka pendek.
Di sisi geopolitik, situasi di Timur Tengah justru menambah lapisan ketidakpastian. Iran telah menawarkan untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari setelah Washington menerima persyaratannya, sementara negara-negara Teluk menolak kendali Iran atas selat tersebut. Reuters melaporkan adanya pengaturan bertahap antara AS dan Iran untuk membuka Hormuz dan melonggarkan blokade AS, namun kedua pihak tidak ingin menyerahkan daya tawar. Presiden Iran, Pezeshkian, menyatakan ingin mencapai kesepakatan sebelum pemilu tengah masa AS.
Ketegangan seperti ini biasanya menguntungkan emas sebagai aset lindung nilai. Namun untuk saat ini, kekuatan imbal hasil AS dan dolar tampaknya mendominasi. Ini menunjukkan bahwa dalam jangka pendek, faktor siklus kebijakan moneter lebih menentukan dibanding faktor risiko geopolitik. Bagi pembaca di Indonesia, dinamika ini juga berdampak pada pasar emas domestik. Harga emas Antam maupun emas perhiasan mengikuti harga internasional dan nilai tukar rupiah. Ketika harga global tertekan tetapi rupiah melemah terhadap dolar AS, penurunan harga emas dalam rupiah bisa tertahan, bahkan berbalik naik. Itulah sebabnya investor ritel perlu melihat harga internasional dan kurs secara bersamaan, bukan hanya salah satunya.
Perlu dicatat bahwa pasar logam mulia juga dipengaruhi oleh dinamika likuiditas global, bukan hanya oleh arah suku bunga. Ketika imbal hasil AS naik, dolar menguat, dan dana global berkonsentrasi pada aset berpendapatan tetap, likuiditas yang tersedia untuk aset nonbunga seperti emas menyusut. Dalam kondisi itu, kenaikan harga emas membutuhkan dorongan baru yang lebih kuat, misalnya eskalasi geopolitik yang serius atau perubahan mendadak dalam ekspektasi kebijakan The Fed. Tanpa pemicu semacam itu, emas cenderung bergerak dalam rentang sempit dengan kecenderungan melemah.
Ada pula aspek musiman yang layak diperhatikan. Permintaan emas fisik dari pasar perhiasan di India dan Tiongkok biasanya meningkat menjelang musim pernikahan dan festival akhir tahun. Jika permintaan fisik ini menguat, harga emas mendapat penopang dari sisi konsumsi nyata, bukan hanya dari spekulasi. Namun, permintaan fisik sangat sensitif terhadap harga. Ketika harga masih bertahan di atas 4.000 dolar AS, sebagian konsumen menunda pembelian dan menunggu koreksi lebih dalam, sehingga penopang dari sisi fisik belum bekerja penuh.
Untuk investor Indonesia, penting memahami bahwa emas memainkan peran berbeda dalam portofolio. Dalam jangka pendek, emas sering bergerak berlawanan dengan dolar dan imbal hasil AS. Namun dalam jangka panjang, emas berfungsi sebagai lindung nilai terhadap penurunan daya beli dan ketidakpastian sistem keuangan. Karena itu, keputusan membeli atau menjual sebaiknya tidak didasarkan pada pergerakan satu pekan, melainkan pada tujuan alokasi aset secara keseluruhan. Porsi wajar untuk emas biasanya ditentukan oleh toleransi risiko, bukan oleh prediksi harga beberapa bulan saja.
Ke depan, pergerakan emas sangat bergantung pada tiga hal. Pertama, apakah data inflasi AS menunjukkan tanda-tanda mereda. Kedua, apakah pejabat The Fed melunak dari nada hawkish mereka. Ketiga, apakah permintaan bank sentral tetap kuat. Jika imbal hasil AS menembus 5,25 hingga 5,30 persen, ruang penurunan emas masih terbuka. Namun jika muncul tanda-tanda perlambatan ekonomi AS yang serius, minat terhadap aset lindung nilai bisa kembali menguat dengan cepat. Untuk saat ini, kesabaran menjadi kunci bagi pemegang logam mulia.