Fed Tahan Suku Bunga 3.50-3.75% dengan Tiga Suara Menentang: Dolar Melemah, Yen Melonjak
Federal Reserve AS mempertahankan suku bunga acuan di level 3.50-3.75% pada rapat 29 Juli 2026, namun keputusan ini tidak bulat. Tiga anggota FOMC memberikan suara menentang dan menginginkan kenaikan 25 basis poin — perpecahan internal terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Ketua Fed Kevin Warsh menyatakan bahwa Fed tidak akan ragu untuk bertindak dan suku bunga yang lebih tinggi mungkin merupakan bagian dari solusi untuk mengendalikan inflasi yang masih di atas target 2%. Imbal hasil obligasi pemerintah AS jangka panjang langsung melonjak, dengan obligasi 30 tahun mencapai level tertinggi dalam 19 tahun di 5.14%.
Dolar AS melemah terhadap mata uang utama, terutama euro, karena pelaku pasar menafsirkan perpecahan di dalam Fed sebagai sinyal bahwa siklus pengetatan mungkin mendekati akhir. Namun, lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah dapat memaksa Fed mempertahankan sikap ketat lebih lama.
Sementara itu, Yen Jepang melonjak 3% dalam satu sesi perdagangan. USD/JPY anjlok dari level tertinggi 40 tahun di 163.34 ke 158.34. Analis menduga intervensi resmi oleh otoritas Tokyo, yang memanfaatkan momentum pelemahan dolar pasca keputusan Fed.
Harga minyak mentah WTI melonjak 6.98% menjadi 84.79 dolar AS per barel, sementara Brent naik 7.47% menjadi 88.21 dolar AS. Runtuhnya kerangka perdamaian sementara AS-Iran telah menghidupkan kembali kekhawatiran gangguan pasokan di Selat Hormuz.
Bagi trader forex, kombinasi suku bunga AS yang tinggi, ketegangan geopolitik, dan intervensi mata uang Jepang menciptakan lingkungan perdagangan yang sangat fluktuatif.