Regulasi: FCA (UK) & CySEC (Siprus) | Deposit Mulai USD 10 Withdraw Instan 24/7

Yuan Tiongkok Cetak Kenaikan Empat Hari Beruntun, Rupiah dan Mata Uang Asia Ikut Diperhatikan

Pasar valuta asing Asia membuka pekan ini dengan nada yang cukup menarik. Bank sentral Tiongkok melalui China Foreign Exchange Trade System (CFETS) menetapkan kurs tengah (midpoint) dolar Amerika Serikat terhadap yuan pada level sekitar 6,7698, atau menguat 45 basis poin dibandingkan penetapan sebelumnya yang berada di kisaran 6,7743. Angka ini menandai kenaikan hari keempat secara beruntun bagi yuan, sekaligus memperlihatkan bahwa momentum apresiasi mata uang Negeri Tirai Bambu itu justru makin kencang, bukan melemah.

Yang menarik, besaran penguatan hari ini lebih besar dari hari sebelumnya. Pada penetapan sebelumnya, yuan hanya menguat sekitar 23 basis poin, sedangkan hari ini angka itu hampir dua kali lipat, yakni 45 basis poin. Bagi pelaku pasar, lonjakan besaran penguatan semacam ini biasanya dibaca sebagai sinyal bahwa otoritas moneter Tiongkok sedang mengizinkan yuan untuk bergerak lebih kuat, atau setidaknya tidak menahan laju apresiasinya. Dalam bahasa sederhana, arah kebijakan saat ini cenderung memberi ruang bagi yuan untuk menguat secara terkendali.

Di sisi pasar spot, yuan di pasar domestik (onshore) tercatat berada di kisaran 6,708 hingga 6,711 per dolar AS. Artinya, nilai tukar yang benar-benar diperdagangkan di pasar justru lebih kuat daripada kurs tengah yang ditetapkan otoritas. Kondisi ini cukup penting karena menunjukkan bahwa ekspektasi pelaku pasar terhadap yuan memang condong ke arah penguatan. Ketika harga spot lebih kuat dari kurs tengah, itu menandakan permintaan terhadap yuan relatif tinggi, baik dari korporasi yang ingin mengonversi dolar maupun dari investor yang menempatkan dana di aset berdenominasi yuan.

Namun, di sisi lain, dolar AS ternyata tidak sepenuhnya kehilangan tenaga. Indeks dolar (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama, tercatat berada di sekitar 99,19 atau naik tipis sekitar 0,10 persen. Dengan kata lain, dolar masih mampu bertahan di atas level psikologis 99. Ini menciptakan tarik-menarik yang menarik: yuan menguat, tetapi dolar juga tidak jatuh bebas. Momen semacam ini sering disebut pasar sebagai fase dua arah, di mana narasi penguatan yuan berhadapan langsung dengan upaya dolar untuk menstabilkan diri.

Bagi Indonesia, dinamika ini punya implikasi yang cukup langsung. Rupiah selama ini sangat sensitif terhadap pergerakan dolar AS, dan ketika dolar bertahan di atas 99, tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, cenderung tetap ada. Akan tetapi, penguatan yuan memberi bantalan tersendiri. Sebab, yuan yang lebih kuat biasanya mencerminkan aliran dana yang masih berminat masuk ke kawasan Asia, dan hal itu bisa membantu menopang sentimen terhadap mata uang regional. Ketika yuan memimpin penguatan, rupiah dan mata uang Asia lain seperti won Korea Selatan, ringgit Malaysia, dan baht Thailand sering kali ikut mendapat angin segar.

Mari kita lihat perbandingan kurs tengah yang dirilis pada hari yang sama. Satu euro setara dengan sekitar 7,8149 yuan, 100 yen Jepang sekitar 4,3799 yuan, satu dolar Hong Kong sekitar 0,86325 yuan, dan satu pound sterling sekitar 9,1185 yuan. Sementara itu, satu dolar Australia berada di sekitar 4,8231 yuan dan satu dolar Selandia Baru sekitar 3,9157 yuan. Untuk kawasan Asia Tenggara, satu yuan setara dengan sekitar 0,60230 ringgit Malaysia, sekitar 4,9195 baht Thailand, dan sekitar 1,1938 pataca Makau. Adapun satu yuan setara dengan sekitar 200,34 won Korea Selatan dan sekitar 0,54497 dirham Uni Emirat Arab.

Susunan angka-angka tersebut memberi gambaran bahwa penguatan yuan tidak terjadi di ruang hampa. Mata uang Asia lainnya bergerak dalam kerangka yang saling terkait, dan yuan sering kali menjadi barometer utama. Korea Selatan, misalnya, sangat bergantung pada ekspor teknologi, sehingga nilai tukar won kerap mencerminkan selera risiko global terhadap aset Asia. Malaysia, sebagai eksportir komoditas, cenderung mengikuti ritme yuan dan harga minyak mentah. Thailand, yang bergantung pada pariwisata, lebih sensitif terhadap arus modal jangka pendek. Indonesia berada di persimpangan semua faktor itu: komoditas, ekspor manufaktur, dan aliran modal portofolio.

Perlu dicatat juga, kurs tengah yang ditetapkan otoritas Tiongkok tidak selalu sama dengan kurs referensi bank komersial. Sebagai contoh, salah satu bank besar Tiongkok menetapkan referensi sekitar 672,55 yuan per 100 dolar AS, sekitar 781,07 yuan per 100 euro, dan sekitar 85,72 yuan per 100 dolar Hong Kong. Perbedaan kecil ini wajar terjadi karena setiap bank menyesuaikan dengan kondisi likuiditas dan kebutuhan nasabahnya masing-masing. Namun arahnya tetap sama, yaitu menunjukkan posisi yuan yang cenderung menguat.

Dari perspektif strategi, ada beberapa hal yang layak dicermati pelaku pasar di Asia, termasuk di Indonesia. Pertama, keberlanjutan penguatan yuan sangat bergantung pada data ekonomi Tiongkok dan sinyal kebijakan moneter lanjutan. Jika data aktivitas ekonomi membaik, ruang apresiasi yuan bisa tetap terbuka. Kedua, posisi dolar di atas 99 menjadi penentu besar. Selama dolar mampu bertahan, tekanan terhadap mata uang berkembang tidak akan hilang sepenuhnya. Ketiga, pelaku pasar perlu memperhatikan arus modal asing di pasar obligasi dan saham Asia, karena arus inilah yang pada akhirnya menentukan kestabilan rupiah dan mata uang regional lainnya.

Kesimpulannya, pekan ini dibuka dengan narasi yang cukup seimbang namun sedikit condong ke arah Asia. Yuan mencatat kenaikan empat hari beruntun dengan besaran yang makin besar, sementara dolar hanya mampu menstabilkan diri di atas level 99 tanpa mendorong kenaikan signifikan. Kombinasi ini menciptakan lingkungan yang relatif bersahabat bagi mata uang Asia, termasuk rupiah, meskipun kewaspadaan tetap diperlukan mengingat dolar masih kokoh. Bagi pelaku pasar valuta asing, kuncinya adalah memantau apakah yuan bisa mempertahankan rentetan kenaikannya, dan apakah dolar benar-benar hanya sekadar stabil atau justru bersiap kembali menguat.